Selasa, 01 Februari 2011

Mereduksi Panas dengan Taman


TAMAN adalah sebuah areal yang berisi komponen material keras dan lunak yang saling mendukung satu sama lain. Taman sengaja direncanakan dan dibuat oleh manusia sebagai zona penyejuk di dalam dan di luar ruangan. Nah, salah satu faktor pemicu udara lancar, yaitu dengan menghadirkan taman di rumah.


Hal tersebut diungkapkan arsitek lanskap Giwo Rubianto. Menurut dia, taman bisa dijadikan alat untuk menetralisir udara di dalam rumah sehingga udara di dalam rumah menjadi lebih sehat dan sejuk.

Hal serupa dikatakan arsitek Briyan Talaosa. Dia menuturkan, selain bukaan, peran taman di rumah juga mampu mengurangi kadar panas yang masuk ke dalam ruangan. Sebab, taman bisa mereduksi panas sampai lima derajat Celsius pada siang hari. Aspek-aspek seperti ini yang harus diperhatikan.
Jadi, sebelum panas matahari langsung menyentuh bangunan, sebaiknya Anda tangkal dengan apa pun yang bisa mereduksi panas sang surya.

Jenis tanaman yang dapat Anda aplikasikan pun bervariasi. Bisa dengan mengaplikasikan tanamanindoor atau indoor garden, tinggal bagaimana Anda memilih cara pengaplikasiannya. Ingin meletakkan tanaman pot atau jenis tanaman yang langsung ditanam ke tanah? Poin utama yang perlu diperhatikan adalah, apakah tanaman tersebut banyak menyerap polutan dan ramah lingkungan atau tidak?

Karena itu, pemilihan jenis pohon atau tanaman yang tepat adalah salah satu faktor pemicu rumah tersebut bisa dikatakan sehat dan ramah lingkungan. Tanaman ramah lingkungan adalah yang dapat menjadi paru-paru bagi penghuni rumah. Tanaman tersebut mampu menyerap polusi udara cukup banyak.

Menurut dosen arsitektur lanskap Sumiantono Raharjo, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendesain taman yang ramah lingkungan. Di antaranya menanam tanaman berdaun lebar seperti pohon ketapang, pohon biola, atau sejenis family dari pohon jati di taman. Pohon-pohon itu berfungsi mengurangi penguapan air ke udara. ”Letakkan pohon-pohon tersebut di beberapa bagian sudut rumah yang dikombinasikan dengan desain taman,” sarannya.

Jenis pohon lain yang dapat Anda gunakan yaitu tanaman sri rejeki, lidah mertua, tanaman hanjuang, dan palem kuning. Beberapa tanaman tersebut termasuk yang paling banyak menyerap polusi udara di dalam maupun di luar rumah.

Kedua, taman harus bersenyawa dengan gaya hidup si empunya rumah. Maksudnya, taman yang Anda buat harus tidak ”membahayakan” Anda dan keluarga. Seperti tidak menggunakan semak-semak berduri, luas lahan harus lebih besar, serta jangan menanam pohon yang ranting-rantingnya mudah patah dan mengeluarkan getah.

Ketiga, penghalang dan pelindung merupakan salah satu unsur untuk membuat taman yang ramah lingkungan. Misalnya, Giro menyebutkan, jika Anda memiliki rumah menghadap barat, maka letakkanlah tanaman-tanaman yang dapat melindungi rumah berikut penghuninya dari terpaan sinar matahari pada siang hari.

(SINDO//tty)

Rumah Hemat Energi




Sebuah perusahaan di Amerika Serikat berhasil mengembangkan sebuah rumah hemat energi. Konsep rumah yang dinamai Enertia Building System ini dapat menjaga kondisi rumah tetap hangat di musim dingin dan tetap sejuk di musim panas. Baik siang maupun malam, udara di dalam rumah bisa tetap nyaman tanpa harus menghabiskan bahan bakar untuk penghangat atau listrik untuk penyejuk ruangan.

Idenya adalah dengan meniru cara bumi menjaga suhunya di siang dan malam hari. Yaitu dengan membuat ‘atmosfir’ buatan. Para ahli yang membuat Enertia House membuat sebuah sekat di seluruh dinding yang terbuat dari kayu. Sekat ini ‘membungkus’ seluruh rumah mulai dari loteng sampai ruang bawah tanah. Hasilnya adalah sebuah ‘amplop’ udara yang membuat ruangan-ruangan di dalam rumah tersebut ‘mengambang’ dalam sebuah aliran udara.

Di musim dingin di siang hari, seperti yang dilakukan oleh atmosfir, sekat udara ini menyerap dan menyimpan panas dari sinar matahari. Malamnya, udara panas inilah yang digunakan untuk menghangatkan rumah. Di musim panas, ruang bawah tanah memiliki jendela-jendela yang dapat dibuka. Jendela-jendela yang terbuka ini membuat udara mengalir masuk dan jendela yang terbuka di bagian atap mengalirkan udara keluar. Aliran udara yang masuk dari bawah dan keluar lewat atap ini membawa serta udara panas yang tertangkap oleh dinding sekat selama matahari bersinar di siang hari.

Salah satunya solusi untuk mengurangi dampak pemanasan global, adalah dengan menerapkan disain rumah tropis hemat energi. Faktanya, rumah yang boros energi, sekitar 80% berasal dari kesalahan desain arsitektur.

KONSEP RUMAH HEMAT ENERGI

Saat ini sepertinya konsep rumah tersebut memang lebih cocok untuk diterapkan di negara empat musim. Untuk di Indonesia yang beriklim tropis tentu diperlukan adaptasi. Misalnya untuk dindingnya, bahan batu mungkin lebih cocok karena di sini matahari bersinar sepanjang tahun. Jadi cenderung lebih banyak panas. Yang jelas rumah di iklim tropis juga bisa didesain agar hemat energi. Antara lain dengan memperhatikan penataan ruang dan ventilasi. Referensinya pun kini juga sudah banyak tersedia. Jadi kita pun sebenarnya juga bisa memiliki rumah hemat energi dengan mudah.

Dengan mengembangkan konsep ‘Rumah Hijau’ kita bisa mengurangi pemborosan energi, kita bisa menghambat pemanasan dunia. ‘Konsep Rumah Hijau’ mampu menekan penggunaan listrik secara signifikan dengan kenyamanan yang jauh lebih baik. Penataan kawasan pun manjadi rapi, indah dan asri.

Ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam konsep rumah hijau.

1. Skala ruangan

2. Jumlah ruangan yang berlebihan

3. Semakin banyak pepohonan dan aliran udara jendela yang benar

4. Memakai konsep penyinaran hijau

Bagi Indonesia, dengan iklim tropis, perlu diterapkan pendekatan enam strategi rumah hijau, yaitu mencakup pelapis bangunan, penerangan, pemanasan, pendinginan, konsumsi energi, dan pengelolaan limbah.

Rumah dengan sistem pencahayaan hijau dapat mengurangi konsumsi energi. Karena semakin banyak pepohonan tumbuh di sekitar rumah, semakin berkurang intensitas panas. Selain kenyamanan dari sisi thermal, tersedia juga kenyamanan dari sisi visual.

Energi matahari yang melimpah dimanfaatkan untuk menciptakan kemandirian energi di rumah. Salah satunya, dengan aspek desain yang menempatkan solar panel di sisi rumah yang menghadap barat yang mendapatkan terpaan sinar matahari paling tinggi dan lama. Selain memanfaatkan energi, hal ini dapat mengurangi panas yang merambat di dinding rumah, dan mengurangi penggunaan pendingin ruangan.

Berikut ini adalah contoh desain rumah hemat energi

Hemat Energi dengan Arsitektur Hijau


KESELARASAN hidup manusia dan alam terangkum dalam konsep arsitektur hijau. Konsep yang kini tengah digalakkan dalam kehidupan manusia modern.

Arsitektur hijau adalah suatu pendekatan pada bangunan yang dapat meminimalisasi berbagai pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitektur hijau meliputi lebih dari sebuah bangunan.


Dalam perencanaannya, harus meliputi lingkungan utama yang berkelanjutan. "Untuk pemahaman dasar arsitektur hijau (
green architecture) yang berkelanjutan, di antaranya lanskap, interior, dan segi arsitekturnya menjadi satu kesatuan," ujar Nirwono Yoga, desainer lanskap yang juga pemerhati lingkungan.

Dalam perhitungan kasar, jika luas rumah adalah 150 meter persegi, dengan pemakaian lahan untuk bangunan adalah 100 meter persegi, maka sisa 50 meter lahan hijau harus digenapkan dengan memberdayakan potensi sekitar. Nirwono mencontohkan, pemberdayaan atap menjadi konsep
roof garden dan green wall. Dinding bukan sekadar beton atau batu alam, melainkan dapat ditumbuhi tanaman merambat. Selain itu, tujuan pokok arsitektur hijau adalah menciptakan eco desain, arsitektur ramah lingkungan, arsitektur alami, dan pembangunan berkelanjutan.

"Arsitektur hijau dipraktikkan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian energi, air, dan bahan-bahan, mereduksi dampak bangunan terhadap kesehatan melalui tata letak, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan bangunan," ulas Dr Mauro Rahardjo dari Feng Shui School Indonesia.


Secara matematis disebutkan, konsumsi 300 liter air harus dapat dikembalikan sepenuhnya ke tanah. Misalkan, air sisa cuci sayur dapat digunakan untuk mencuci mobil. "Atau membuat sumur resapan dan biopori," kata Nirwono.


Dalam hal estetika, arsitektur hijau terletak pada filosofi merancang bangunan yang harmonis dengan sifat-sifat dan sumber alam yang ada di sekelilingnya. Penggunaan bahan bangunan yang dikembangkan dari bahan alam dan bahan bangunan yang dapat diperbaharui.


"Memanfaatkan sumber yang dapat diperbaharui seperti menggunakan sinar matahari melalui
passive solar dan active solar, serta teknik photovoltaic dengan menggunakan tanaman dan pohon-pohon melalui atap hijau dan taman hujan," kata Mauro.

Konsep arsitektur hijau sangat mendukung program penghematan energi. Rumah ala tropis dengan banyak bukaan, dibentuk untuk mengurangi pemakaian AC juga penerangan. Namun, hal tersebut tidak akan berjalan mulus jika sekeliling rumah tidak asri. Bukaan banyak hanya akan memasukkan udara panas dan membuat pemiliknya tetap memasang pendingin ruangan.


Taman dan halaman dalam arsitektur hijau juga tidak sekadar memperhatikan estetika. "Dengan adanya krisis pangan, gagasan
roof garden bisa jadi apotek hidup atau kebun sayuran. Tidak zaman lagi bikin taman dari segi estetis saja," sebut Nirwono. Tanaman sayur ditata serapi mungkin, kemudian dikonsumsi pemiliknya. Beberapa tanaman yang cocok untuk roof garden adalah daun sirih, pandan sayur, kangkung, dan lain-lainnya.

Nirwono menjelaskan adanya keselarasan antartiap sendi dalam kehidupan. Orang bicara konsep hijau, tapi tidak jeli dengan sekitar. Krisis energi muncul akibat kelemahan manusia dalam memenuhi kebutuhan. Manusia menunggu datangnya bahan pangan dari luar kota. Sayur tomat yang bisa ditanam di halaman, tidak menjadi pilihan pertama. Lebih suka menunggu truk sayur membawa dari luar kota. Coba pikir, berapa banyak energi yang terbuang.


Sebuah perusahaan di Jerman melansir produk batu bata ramah lingkungan. Nyatanya, produk tersebut tidak jadi ramah lingkungan jika mesti dibawa menggunakan kapal laut ke luar Jerman. Sebaiknya kita mampu menggunakan batu bata sendiri, dengan biaya dan peluang pemborosan energi lebih sedikit. Struktur bangunan asli Indonesia sudah menerapkan prinsip
green architecture.

"Struktur bangunan di Jawa dan Irian, jenis arsitektur tropis memanfaatkan bahan asli dari daerah tersebut," ucap pria ramah ini. Dengan segala keterbatasan, nenek moyang kita membangun rumah tepat daya dan guna.


Dari segi interior, arsitektur hijau mensyaratkan dekorasi dan perabotan tidak perlu berlebihan, saniter lebih baik, dapur bersih, desain hemat energi, kemudahan air bersih, luas dan jumlah ruang sesuai kebutuhan, bahan bangunan berkualitas dan konstruksi lebih kuat, serta saluran air bersih. Untuk mengatasi limbah sampah, lubang biopori dapat menjadi solusi.

(sindo//tty)

© 2007 - 2011 okezone.com,

Taman Jadikan Rumah Tak Bernyamuk


KEBERADAAN taman di sekitar hunian berfungsi untuk menyejukkan dan menyegarkan rumah. Taman juga mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh penghuni rumah akan sarana rekreasi yang menyenangkan.

Masalah terjadi ketika kebersihan sekitar area rumah dan taman sering kali tidak diperhatikan dengan baik. Tak dimungkiri, terkadang kita kurang memperhatikan keberadaan area sekitar taman bila ada genangan air setelah turun hujan dan penumpukan bekas-bekas sampah tanpa membakar ataupun membuangnya secara tepat. Alhasil, areal sekitar rumah menjadi banyak nyamuk dan sarana rekreasi instan Anda itu pun jadi terganggu lantaran hal tersebut.


Seperti kita ketahui, nyamuk adalah wabah yang harus dimusnahkan. Sebab, berbagai jenis penyakit bisa menjangkit setiap orang yang digigit nyamuk. Semisal penyakit malaria, demam berdarah, dan kaki gajah.

Menurut arsitek Probo Hindarto, banyak hal dapat dijadikan alasan kenapa sekitar rumah dan taman kerap “kedatangan” nyamuk. Beberapa di antaranya dari segi kebiasaan pemilik rumah. Probo menyebutkan, biasanya yang menyebabkan banyak nyamuk adalah genangan air, baik itu dalam wadah maupun genangan air yang tidak bisa meresap atau menguap. Selain dari wilayah sekitar rumah, nyamuk juga berasal dari daerah sekitar rumah, terutama bila dekat dengan perairan yang sering digunakan nyamuk untuk bertelur.


Probo mengatakan, kebiasaan sehari-hari menyimpan air dalam berbagai wadah, seperti gentong, bak air, maupun wadah-wadah kecil, itu dapat memberi kesempatan nyamuk untuk bertelur. “Demikian juga dengan rembesan, genangan kecil, ceruk, atau lubang pada lantai, dinding, dan sebagainya, rawan menjadi tempat bertelur nyamuk,” sebutnya.


Beberapa benda yang memungkinkan genangan sehingga nyamuk bisa bertelur di sana, antara lain tangki/drum, vas bunga, pot bunga, kolam hias, talang air, wadah minum hewan, jebakan semut/cawan air di bawah kaki meja, ban bekas, peralatan, ember, kaleng bekas, lubang pohon, dan lubang batu. Lantas, bagaimana cara kita agar bisa memperlakukan taman dan sekitar rumah dengan baik serta tidak banyak nyamuk?

Probo menyebutkan, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi nyamuk di sekitar rumah. Pertama yakni dengan cara instan. Instan di sini maksudnya adalah menggunakan semprotan antinyamuk atau menggunakan obat nyamuk bakar. Keduanya merupakan bahan kimia yang cukup berbahaya. Kendati demikian, dua cara tersebut terbilang ampuh untuk mengurangi keberadaan nyamuk.

Cara lain yaitu dengan penyelesaian desain secara arsitektural, yakni cara yang alami. Salah satunya dengan menggunakan tanaman sebagai pengusir nyamuk. Beberapa jenis tanaman tertentu mengeluarkan bau yang tidak disukai oleh nyamuk.

Misalnya, Probo menyebutkan, tanaman zodiac, selasih, geranium, lavender, sereh, dan akar wangi.

Beberapa di antara tanaman yang memiliki aroma penghalau nyamuk biasanya merupakan tanaman hias, dan merupakan tanaman obat dengan khasiat lebih dari sekadar menghalau nyamuk. “Dari berbagai tanaman ini, ada pula yang bisa disuling bunga, biji, dan daunnya untuk menghasilkan minyak yang dapat digunakan sebagai pengganti
lotion antinyamuk yang penuh dengan bahan kimia,” ungkap Probo.

Namun, adanya tanaman pengusir nyamuk tersebut di rumah, bukan berarti wabah penyakit akibat nyamuk bisa langsung hilang. Sebab, jika Anda tidak menyelinginya dengan penataan tanaman yang baik dan benar, bukan tidak mungkin nyamuk tetap akan bersarang di taman dan sekitar rumah.

Untuk itu, sebelum mengaplikasikan tanaman-tanaman tersebut, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan. Misalnya lokasi terdapat bukaan atau tempat yang sering dilewati nyamuk. Probo menyebutkan, jenis pohon yang biasa digunakan ada bermacam-macam. Penting untuk meletakkannya pada area terdapat bukaan atau tempat yang mungkin sering dilalui nyamuk, seperti jendela dan di sekitar ventilasi. Terdapat juga cara yang bisa ditempuh melalui desain arsitektur rumah yang memperhatikan bukaan-bukaan di atas taman dalam rumah.


Seperti kita ketahui, taman dalam rumah biasanya memiliki lubang udara di bagian atas untuk memasukkan cahaya dan hawa alami. Pada area di atas taman yang terbuka ini, Anda dapat mengombinasikan antara struktur atap dan bukaan bebas yang ditutup dengan kasa nyamuk. Misalnya, Probo menyebutkan, menutup sebagian atap taman dengan polykarbonat (lebih baik kaca karena tembus cahaya matahari), dan menutup sisa lubang dengan kasa nyamuk dengan menggunakan struktur besi atau bahan lain.

Dengan demikian, Anda akan menahan nyamuk masuk sejak dari taman, dengan memperlakukan taman sebagai bagian dari ruang dalam. Yang perlu diperhatikan pada desain semacam ini adalah, penghawaan alami harus tetap lancar. Demikian pula dengan penyelesaian teknis bangunan dan pekerjaan plumbing untuk mencegah air tergenang di bagian rumah. Hal ini juga berkaitan dengan sistem sanitasi dan drainase rumah, yaitu sistem dalam rumah untuk mengalirkan limbah dan mencegah penyakit yang ditimbulkan oleh pembuangan limbah sampah rumah.


Guna memaksimalkan pengurangan nyamuk yang masuk ke dalam rumah, Anda bisa memanfaatkan kasa dengan memasangnya di beberapa bagian rumah yang terbuka. Misalkan jendela, ventilasi, bahkan pintu di mana bentuk dan variasinya dapat disesuaikan dengan tema rumah.

(SINDO//tty)